Lailatul Qadar adalah malam yang suci dan dimuliakan dalam agama Islam. Malam ini memiliki keistimewaan dan kemuliaan yang luar biasa, di mana Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ فِیۡ لَیۡلَۃِ الۡقَدۡرِ ۚ﴿ۖ۲﴾ وَمَاۤ اَدۡرٰٮکَ مَا لَیۡلَۃُ الۡقَدۡرِ ؕ﴿۳﴾ لَیۡلَۃُ الۡقَدۡرِ ۬ۙ خَیۡرٌ مِّنۡ اَلۡفِ شَہۡرٍ ؕ﴿ؔ۴﴾ تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَالرُّوۡحُ فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ کُلِّ اَمۡرٍ ۙ﴿ۛ۵﴾ سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ الۡفَجۡرِ ﴿٪۶﴾

Aku Baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang (1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadar. (2) Dan apakah engkau tahu apa Lailatul Qadar itu? (3) Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. (4) Didalamnya turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhan mereka membawa segala urusan, (5) Selamat sejahtera sampai terbit fajar (6) (QS Al-Qadr [97]: 1-6 dengan basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

Dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas (97:1-6) kita dapat memahami bahwa Lailatul Qadar secara harfiah berarti ‘Malam Ketetapan/Kekuasaan’ . Malam ini adalah malam yang lebih berharga dari seribu bulan (1000 merupakan angka tertinggi dalam bahasa Arab) dan di mana para malaikat turun ke Bumi dan membantu meniupkan kehidupan baru ke dalam umat manusia. Kita juga mengetahui dari tempat lain dalam Al-Qur’an bahwa malam ini adalah ‘Malam yang Diberkahi’. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ فِیۡ لَیۡلَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ اِنَّا کُنَّا مُنۡذِرِیۡنَ ﴿۴﴾

Sesungguhnya Kami menurunkannya di suatu malam yang diberkati, karena Kami selalu memberi peringatan kepada orang-orang yang sesat. (QS Ad-Dukhan [44]:4 basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

Malam yang beberkat, atau “Malam Takdir” itu ialah kata kiasan yang biasa dipakai Al-Qur’an untuk suatu masa, ketika kegelapan rohani menyelubungi seluruh permukaan bumi dan seorang pembaharu rohani dibangkitkan untuk memperbaiki dan menghidupkan kembali umat manusia yang sudah rusak. Malam yang memberikan kepada umat manusia Guru terbesarnya dan syariat terakhir lagi paling sempurna itu sungguh merupakan “Malam Takdir” bagi seluruh umat manusia. Malam itu dapat dianggap meliputi seluruh masa yang di dalamnya Al-Qur’an terus- menerus diturunkan. [1]

Makna dan Keutamaan Lailatul Qadar

1. Makna Lailah

Secara umum lail dan lailah berarti malam, Lailah mengandung arti lebih luas dan berjangkauan lebih jauh daripada kata lail, seperti kata yaum, yang adalah lawan kata lailah, mengandung arti lebih luas daripada nahār yang adalah lawan kata lail.

Kata lailah telah dipergunakan sebanyak delapan kali dalam Al-Qur’an (sekali dalam QS.2:52; 2:188; 44:4; dua kali dalam QS.7:143 dan tiga kali dalam QS Al-Qadr), dan di setiap tempat kata itu dipergunakan sehubungan dengan turun Al-Qur’an dan masalah-masalah yang berkaitan dengan itu. Dengan demikian kata lailah mengisyaratkan kepada kemuliaan, keagungan, dan kebesaran malam-malam yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan. [2]

2. Makna Qadr

Qadr berarti, nilai, kecukupan, kebesaran, takdir, nasib, kekuasaan. [2]

3. Makna Lailatul Qadar

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menulis,

Malam ini, menurut tafsir umumnya, adalah Malam yang penuh berkah, namun sebagian ayat Al-Qur’an Suci menunjukkan bahwa kondisi kegelapan dunia juga merupakan Malam Ketetapan karena sifat-sifatnya yang tersembunyi. Dalam kondisi kegelapan itu, keikhlasan dan keteguhan, serta ketakwaan dan ibadah, memiliki nilai yang besar di mata Allah. Karena kondisi kegelapan itu, yang pada saat kedatangan Rasulullah (saw), telah mencapai puncaknya dan menuntut turunnya Cahaya Agung, maka dengan melihat kondisi kegelapan ini dan mengasihani makhluk-makhluk yang dihinggapi kegelapan, terjadilah lonjakan sifat Rahmaniyyat dan berkah surgawi pun tercurah ke bumi. Kondisi kegelapan itu menjadi berkah bagi dunia dan karenanya dunia menerima rahmat agung sehingga Manusia Sempurna dan Pemimpin para Nabi, yang tidak ada seorang pun seperti dia, dan tidak akan pernah ada, datang untuk memberi petunjuk kepada dunia dan membawa Kitab yang terang itu bagi dunia yang tidak ada tandingannya. Itu adalah manifestasi besar kesempurnaan spiritual Tuhan bahwa, di saat kegelapan dan kesuraman, Dia menurunkan Cahaya Agung yang disebut Furqan dan yang membedakan antara kebenaran dan kepalsuan dan yang menunjukkan datangnya kebenaran dan lenyapnya kepalsuan. Itu turun ke bumi ketika bumi telah mati secara spiritual dan daratan dan lautan telah sangat rusak. Dengan turunnya itu, itu mencapai apa yang telah ditunjukkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa dalam ayat:

اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ...

Artinya: Bumi telah mati dan Tuhan menghidupkannya kembali. (QS Al-Hadid [57:18]) Perlu diingat bahwa turunnya Al-Qur’an yang bertujuan untuk menghidupkan kembali bumi terjadi melalui naiknya sifat Rahmaniyyat. Sifat ini terkadang menampakkan dirinya dalam bentuk materi dan menyebabkan hujan rahmat turun ke tanah kering dan dengan demikian memberikan bekal bagi mereka yang dilanda kelaparan. Sifat yang sama terkadang melonjak naik secara rohani dan memberikan rahmat bagi mereka yang lapar dan haus serta hampir mati karena kesesatan dan kesalahan, dan tidak mendapatkan makanan kebenaran dan kebajikan yang merupakan sumber kehidupan rohani. Maka dari itu, Yang Maha Pemurah, sebagaimana Dia memberikan makanan bagi tubuh pada saat dibutuhkan, maka dari Rahmat-Nya yang Sempurna Dia juga menyediakan makanan rohani pada saat dibutuhkan.” [3] [4]

Masa kemunculan seorang muslih Rabbani besar disebut Lailatul-Qadr, karena pada masa itu dosa dan kejahatan merajalela serta kekuatan kegelapan menguasai segala yang lain. Lailatul-Qadr telah diartikan pula sebagai suatu malam tertentu di antara malam-malam tanggal ganjil pada sepuluh hari terakhir di dalam bulan Ramadan, tatkala Al-Qur’an pertama kali mulai diturunkan. Atau, ayat itu dapat berarti, seluruh jangka waktu 23 tahun yang meliputi risalat Hz. Rasulullah saw., ketika selama jangka waktu itu Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. [5]

4. Makna 1000 Bulan

Alf (seribu), yang merupakan bilangan paling tinggi dalam bahasa Arab dan berarti bilangan yang tidak terhitung banyaknya. Ayat itu berarti bahwa Malam Takdir atau Malam Nasib itu nilainya lebih baik daripada semua bulan yang tidak terhitung bilangannya, yaitu, zaman Hz. Rasulullah saw. itu lebih baik dan lebih unggul daripada semua zaman dijumlahkan. Ayat ini mengandung isyarat mengenai kemunculan para muslih Rabbani (imam-imam zaman) di antara kaum Muslimin, bilamana kaum ini memerlukan mereka. Seribu bulan dengan perhitungan kasar membuat satu abad, dan Hz. Rasulullah saw. diriwayatkan bersabda, bahwa Allah Swt. pada permulaan setiap abad akan senantiasa membangkitkan dari antara pengikut-pengikutnya seorang mujaddid yang akan membangkitkan kembali Islam dan memberinya suatu kehidupan dan gairah baru. [6] [7]

5. Makna Turunnya Ruh

Ar-Rūḥ di sini berarti semangat baru, kebangkitan, istiqamah atau ketetapan hati. Di dalam malam Lailatul-Qadr para malaikat turun untuk menolong utusan Ilahi atau muslih Rabbani untuk mendakwahkan kebenaran, dan para pengikutnya diisi dengan kehidupan baru dan semangat baru untuk menyebarkan dan mendakwakan Risalah risalah Ilahi. [7]

6. Makna Turunnya Malaikat

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) menyampaikan,

“…Para Malaikat Allah turun untuk memenuhi dan memenuhi setiap kebutuhan keagamaan dan menyingkirkan semua rintangan dan hambatan dari jalan perluasan dan penyebaran Pesan baru ini.” [8] [4]

7. Makna Selamat

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) menyampaikan,

“Kata (salaamun) (damai) merupakan kalimat lengkap yang berarti, “semuanya adalah damai.” Pada masa seorang Nabi atau pembaharu Ilahi, kedamaian mental yang tenang dan tenteram turun atas orang-orang beriman di tengah kesulitan dan kekurangan. Kebahagiaan surgawi yang mengilhami orang-orang beriman pada saat itu melampaui semua kegembiraan materi dan hal-hal memanjakan nafsu. [9] [4]

8. Makna Terbit Fajar

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) menyampaikan,

Kalimat (hiya hatta mathla’il fajr) (Semuanya damai hingga terbit fajar.) Maksudnya, berlalunya malam penuh kesusahan dan terbitnya fajar kemenangan dan kejayaan jalan kebenaran.” [9] [4]

Fajar terbit berarti berlalunya malam-kesulitan dan terbitnya fajar kemenangan dan keunggulan kebenaran. [7]

Kapan Lailatul Qadar Terjadi?

Meskipun tanggal pasti Lailatul Qadar tidak diketahui, umat Islam dianjurkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan” [10]

“Aku memandang bahwa mimpi kalian tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir”. [11]

“Lailatul qadar adalah malam ke dua puluh tujuh.” [12]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) diketahui telah bersabda bahwa apabila malam ke-27 Ramadhan jatuh pada hari Jumat, maka dengan karunia Allah (swt) malam tersebut sering kali menjadi Lailatul Qadar. [4]

Berdasarkan kisah-kisah yang diberkahi di atas, maka wajib bagi setiap orang beriman untuk meningkatkan ibadahnya selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar mereka memperoleh manfaat dari buah-buah Lailatul Qadar dan diampuni semua dosa mereka sebelumnya, Insya-Allah [dengan izin Allah]. [4]

Hazrat Khalifatul Masih V (aba) menyampaikan sebuah khotbah tentang masalah Lailatul Qadar (14 November 2003) di mana beliau (aba) menekankan perlunya bagi setiap orang beriman untuk memberikan perhatian khusus tidak hanya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan tetapi juga pada setiap malam. Huzur (aba) mengindikasikan bahwa salah satu alasan di balik ketidaktentuan tentang (waktu) malam Lailatul Qadar jatuh adalah untuk memastikan bahwa orang-orang beriman menghabiskan semua sepuluh malam terakhir dalam ibadah dan tidak hanya melakukan ibadah pada satu malam yang ditentukan saja. [4]

Amalan di Malam Lailatul Qadar

Malam Lailatul Qadar adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan memohon ampunan serta ridha-Nya. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan pada malam Lailatul Qadar:

1. Meningkatkan Kualitas Ibadah

Ramadhan adalah bulan untuk refleksi diri, berdoa, dan membersihkan diri dari dosa. Lailatul Qadar merupakan puncak dari bulan Ramadhan, di mana setiap amalan akan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, perbanyaklah amalan-amalan sunnah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan shalat sunnah.  

2. Memperbanyak Doa

Berdoa dengan khusyuk dan penuh harap agar dosa-dosa diampuni dan segala hajat dikabulkan. Rasulullah (saw) mengajarkan doa khusus untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar:  

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka maafkanlah aku” [13]

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Lihatlah! Bagaimana penampakan rahmat Allah, rahmaniyah dan rahimiyah-Nya dengan cara apa saja tengah terjadi. Jadi, beruntunglah orang-orang yang mengambil manfaat dari hari-hari (Ramadhan) ini. Merupakan termasuk karunia Allah juga yang pada hari-hari terakhir Ramadhan ini menekankan kepada kita untuk mencari lailatul qadar supaya kita menyaksikan pemandangan pengabulan doa, lebih dari sebelumnya. Inipun bukanlah hak kita, melainkan merupakan anugerah dariNya untuk menarik hambaNya mendekat kepada-Nya dan inipun merupakan keluasan rahmat-Nya. [14]

3. Membaca dan Merenungkan Al-Qur’an

Mengkaji dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Lailatul Qadar adalah malam di mana Al-Qur’an diturunkan, sehingga membaca dan merenungkan Al-Qur’an di malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa.  

4. Qiyamul Lail atau Tahajud

Melaksanakan shalat malam dengan khusyuk dan penuh keikhlasan. Rasulullah (saw) bersabda, “Barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada malam lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu.” [15]

5. Beriktikaf

Menghabiskan waktu di masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Beriktikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama di malam Lailatul Qadar, merupakan sunnah Nabi Muhammad (saw). [16] Dengan beritikaf, kita dapat lebih fokus beribadah dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat melalaikan. (lebih detil klik di sini)

6. Meningkatkan Muhasabah dan Introspeksi Diri

Lailatul Qadar adalah waktu yang tepat untuk merenungkan diri, mengingat kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala.  

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Jika ada kelemahan di hari-hari awal Ramadhan, hendaklah lakukan upaya untuk memperbaiki kelemahan tersebut di hari-hari kemudian. Hadhrat Rasulullah saw tidak mengatakan bahwa dosa yang akan diampuni adalah dosa orang yang mendapatkan Lailatul Qadar, melainkan beliau saw berkata bahwa setiap orang yang berpuasa dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala serta bermuhasabah diri (mengoreksi diri) dapat berharap Allah memberikan ampunan kepadanya. [17]

7. Fokus pada Aspek Ruhani

Tinggalkanlah kesibukan duniawi dan fokuslah pada ibadah dan dzikir kepada Allah Ta’ala.

8. Bershalawat kepada Nabi Muhammad (saw)

Perbanyaklah shalawat kepada Nabi Muhammad (saw), karena beliau adalah sumber rahmat dan keberkahan bagi seluruh alam. [18]

Catatan Kaki

  1. Holy Quran Indonesian translation with short commentary vol.2 p1696 

  2. Holy Quran Indonesian translation with short commentary vol.2 p2149  2

  3. Brahin-e-Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in, Vol. 1 , hlm. 414-435, catatan kaki 11 

  4. Alislam.org - Lailatul Qadar  2 3 4 5 6 7

  5. Holy Quran Indonesian translation with short commentary vol.2 p2149-2150 

  6. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Peperangan Besar, Bab Peristiwa dalam satu abad 

  7. Holy Quran Indonesian translation with short commentary vol.2 p2150  2 3

  8. Tafsir al-Kabir, Hal.2859, Ft.4786 

  9. Tafsir Al-Kabir, Hal.2860 Ft.4797  2

  10. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Shalat Tarawih, Bab Mencari malam lailatul qadar pada hari ganjil di sepuluh hari terakhir 

  11. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Shalat Tarawih, Bab Mencari malam lailatul qadar di tujuh hari terakhir 

  12. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab Pendapat yang mengatakan “Dua puluh tujuh” 

  13. Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Doa, Bab Lain-lain 

  14. Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (aba) tanggal 08 Juni 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK 

  15. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Puasa, Bab Ganjaran bagi yang shalat malam ramadhan dan puasa karena iman dan ihtisab 

  16. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Al Quran, Bab Jibril membacakan Al-Qur’an kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam 

  17. Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad Khalifatul Masih al-Khaamis (aba) tanggal 10 Juli 2015 di Masjid Baitul Futuh, London, UK. 

  18. Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Shalat, Bab Keutamaan Salawat nabi (saw)