قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَارۡزُقۡنَا وَاَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿۱۱۵﴾

Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi ‘Id (hari raya) bagi Kami, yaitu orang-orang yang sekarang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezekilah Kami, dan Engkaulah Pemberi rezki yang paling Utama”. (QS. Al-Maidah [5]:115 basmallah sebagai ayat pertama).

Idul Fitri adalah momen yang sangat dinantikan dan penuh sukacita bagi umat Islam di seluruh dunia. Hari raya ini menandai puncak dari bulan suci Ramadan. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, kedatangan Idul Fitri disambut dengan rasa syukur dan kegembiraan yang mendalam. Dalam kalender Islam, terdapat dua perayaan Id utama setiap tahunnya. Idul Fitri, yang sering disebut sebagai “Id Kecil” atau “Idul Fitri”, dirayakan setelah berakhirnya bulan Ramadan, sementara Idul Adha (“Id Besar” atau “Hari Raya Kurban”) diperingati sekitar sepuluh minggu kemudian.

Pengertian

kata ‘Id’ secara etimologis berarti sesuatu yang kembali lagi dan lagi, menyoroti bahwa perayaan Idul Fitri atau Idul Adha yang terus berulang. [1]

Lebih lanjut bahwa dalam bahasa Urdu, kata ‘Id’ digunakan untuk mengungkapkan kebahagiaan yang besar, menggambarkan perasaan sukacita universal yang terkait dengan kesempatan ini. [1]

Sementara itu, ‘Fitr’ berarti ‘berbuka puasa’, [2] yang secara langsung menghubungkan perayaan ini dengan berakhirnya bulan Ramadan.

Latar Belakang Idul Fitri

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata; “Orang-orang Jahiliyah mempunyai dua hari dalam setiap tahun untuk bermain-main. Setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam datang ke Madinah, beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: ‘Kalian dahulu mempunyai dua hari untuk bermain-main, sungguh Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari (raya) Fitri dan hari (raya) Adha (Kurban) ‘.” [3]

Waktu Idul Fitri

Tanggal Idul Fitri ditentukan berdasarkan kalender qomariah Islam (kalender lunar), yang jatuh pada tanggal 1 Syawal.

Pentingnya Idul Fitri

Idul Fitri tidak sekadar hari libur. Namun Idul Fitri adalah hari perayaan dan kegembiraan yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk umat Islam.

Huzur V (aba) bersabda,

Hari ini adalah Hari Id yang mana merupakan hari berbahagia dan bergembira. Kita merayakan kegembiraan ini berdasarkan perintah Allah. Sebab, Allah Ta’ala telah menetapkan Hari Id ini bagi kita supaya dirayakan dengan segala sukacita sehubungan dengan memandang tuntutan-tuntutan fitrah manusiawi yang mana telah menempatkan suatu keinginan untuk merayakan kegembiraan-kegembiraan itu bersama-sama dengan karib-kerabat dan teman-teman setiap kali diberikan kesempatan untuk itu. [4]

Perayaan Islam ini unik karena mencakup ibadah khusus berupa Khotbah Id dan Salat Id.

Huzur V (aba) bersabda,

Nabi Muhammad (saw) telah memberitahukan pada kita bahwa manusia itu seyogianya berkumpul bersama di Hari Id ini untuk mendengarkan perintah-perintah Allah dan untuk beribadah kepada-Nya di samping juga merayakan kegembiraan-kegembiraan Id. [4]

Idul Fitri juga dipandang sebagai hadiah bagi mereka yang berpuasa dan beribadah kepada Allah selama bulan Ramadan. [5]

Pencapaian ‘Id hakiki’ (Id yang sebenarnya) melibatkan upaya untuk mencapai standar kebaikan dan ihsan (keunggulan) yang lebih tinggi

Huzur V (aba) bersabda,

Sesungguhnya baiknya perlakuan terhadap saudara-saudara, menyebarkan pesan kasih sayang dan damai di suatu tempat, menjalani kehidupan di dalam masyarakat dengan kecintaan dan harmoni, menunaikan hak-hak orang lain, itulah apa yang menarik manusia memperoleh kebahagiaan-kebahagiaan Id hakiki. [4]

Ketahuilah! Menunaikan hak-hak (hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia) itu adalah suatu keharusan untuk menjaga persatuan Jemaat juga, karena hal itu di satu sisi akan mengantarkan pada kebahagiaan hakiki dan di sisi yang lain akan menghantarkan kemajuan Jemaat. [4]

Hubungan Ramadan dan Idul Fitri

  • Idul Fitri menandai berakhirnya bulan Ramadan, bulan puasa yang penuh berkah. Ramadan adalah periode peningkatan ruhani, di mana umat Islam berpuasa, dengan perhatian yang lebih besar terhadap salat wajib dan sunah, mempelajari Al-Qur’an, memberikan sedekah, dan mengkhidmati sesama manusia. [2]
  • Idul Fitri melambangkan puncak dari pelajaran yang dipetik, perubahan yang diadopsi, dan kedekatan dengan Tuhan yang dicapai selama Ramadan. [2]

  • Id yang sebenarnya harus dirayakan dengan melanjutkan perbuatan baik yang dilakukan selama bulan Ramadan. [6]

Bagaimana Merayakan Idul Fitri

  • Ucapan selamat “Id Mubarak” atau “Selamat Idul Fitri” adalah cara umum untuk saling menyapa di hari Id.

  • Mengunjungi keluarga, teman, tetangga untuk berbagi makanan, dan memberikan hadiah kepada anak-anak.

  • Hidangan khusus disiapkan dan dinikmati bersama. Hari ini adalah hari berbuka. Oleh karena itu diharamkan untuk berpuasa.

  • Membayar zakat fitrah sebelum melaksanakan salat Id kepada fakir miskin (sebaiknya dibayarkan beberapa hari sebelum shalat Id) [7]

Persiapan Salat Id

  • Bangun pagi-pagi, melaksanakan salat Subuh. [7]

  • Mandi. [7]

  • Memakai parfum. [7]

  • Bersiap-siap dengan pakaian terbaik. [7]

  • Makan sebelum salat Id. Disunahkan memakan kurma dengan jumlah ganjil. [8]

  • Sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi Suci (saw), umat Islam umumnya pergi ke tempat shalat ‘Id melalui satu jalan dan kembali melalui jalan lain. [9]

Shalat Id

  • Semua umat Islam, laki-laki, perempuan dan anak-anak, turut serta dalam salat ini.

  • Para wanita yang haid pun tetap diperintahkan untuk tetap datang ke lokasi salat Id. Walaupun tidak melaksanakan salat. Namun mendengarkan Khotbah Id agak jauh dari tempat salat.

  • Salat ini dilaksanakan sebanyak dua rakaat dan dilakukan secara berjamaah. [7]

  • Salat ini umumnya dilakukan di lapangan terbuka atau aula besar. [7]

  • Tidak ada adzan atau iqamah yang dikumandangkan untuk Salat Id. [7]

  • Tidak ada salat sunah sebelum dan sesudah salat Id.

  • Waktu untuk Salat Id adalah sebelum tengah hari. Seperti Salat Jumat, Salat Id selalu dilaksanakan secara berjamaah. [7]

  • Salat Id adalah ungkapan rasa syukur yang tulus, karena telah diberi kesempatan yang begitu indah untuk mencapai kedekatan-Nya setelah melewati Ramadan. [2]

  • Salat Id memiliki tambahan Takbir (mengucapkan “Allahu Akbar”) dibandingkan dengan salat biasa. Pada Rakaat pertama, setelah membaca Takbir dan Thana’ (doa iftitah), tetapi sebelum membaca Ta’awud Imam mengangkat tangannya ke telinganya tujuh kali dengan membaca Allahu Akbar setiap kali dengan suara keras dan kemudian menurunkan lengannya ke sisinya setiap kali sampai setelah Takbir ketujuh ketika dia melipat tangannya dengan cara biasa dan melanjutkan dengan Salat. Para makmum juga mengangkat tangan mereka ke telinga mereka mengatakan Allahu Akbar tetapi dengan suara yang tidak terdengar dan kemudian membiarkan tangan mereka tergantung di sisi mereka seperti yang dilakukan oleh Imam. [7]

  • Pada Rakaat kedua ada lima Takbir, yaitu Imam dan makmum mengangkat tangan mereka ke telinga mereka lima kali mengatakan Allahu Akbar dan kemudian membiarkannya tergantung di sisi mereka setiap kali. [7]

  • Membaca surah-surah tertentu seperti Al-A’la dan Al-Ghashiyah adalah sunah

  • Setelah Salat Id , Imam menyampaikan khotbah. Seperti halnya Salat Jumat, khotbah Id terdiri dari dua bagian. Perlu dicatat bahwa khotbah Salat Jumat mendahului Salat Id, sedangkan pada hari Id, khotbah disampaikan setelah Salat Id. [7]

Setelah Salat Id

  • Setelah selesai Khotbah Id, bisanya Huzur memerintahkan kita untuk berdoa bersama.

  • Imam dan jamaah membacakan ayat-ayat bertasbih berikut dengan suara lantang: Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illallahu wallahu akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamd. (Allah Maha Besar; Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah; Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik-Nya) [7]

Catatan Kaki