Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan kemuliaan bagi umat Islam. Di bulan inilah Allah Ta’ala menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, agar mereka dapat hidup di jalan yang benar dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Mengenai turunnya Al-Qur’an di Bulan Ramadan Allah Ta’ala berfirman:

شَہۡرُ رَمَضَانَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ فِیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ ہُدًی لِّلنَّاسِ وَبَیِّنٰتٍ مِّنَ الۡہُدٰی وَالۡفُرۡقَانِ ...

Artinya: “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk dan Furqān…” (QS Al-Baqarah [2]: 186 dengan basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

Dalam ayat tersebut jelas bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan.

Di tempat lain, Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ فِیۡ لَیۡلَۃِ الۡقَدۡرِ ۚ﴿ۖ۲﴾

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. (QS Al-Qadr [97]: 2 dengan basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

Kita juga mengetahui bahwa Lailatul-Qadr terjadi di bulan Ramadan.

Allah Ta’ala juga pernah berfirman,

وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا غَنِمۡتُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ فَاَنَّ لِلّٰہِ خُمُسَہٗ وَلِلرَّسُوۡلِ وَلِذِی الۡقُرۡبٰی وَالۡیَتٰمٰی وَالۡمَسٰکِیۡنِ وَابۡنِ السَّبِیۡلِ ۙ اِنۡ کُنۡتُمۡ اٰمَنۡتُمۡ بِاللّٰہِ وَمَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا یَوۡمَ الۡفُرۡقَانِ یَوۡمَ الۡتَقَی الۡجَمۡعٰنِ ؕ وَاللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿۴۲﴾

Artinya: “Dan ketahuilah bahwa apapun yang kamu peroleh sebagai harta rampasan perang maka sesungguhnya seperlimanya bagi Allah, Rasul-Nya, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan musafir, jika memang kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Al-Qur’an) pada Hari Pembedaan yaitu hari ketika dua pasukan bertemu dan Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Anfal [8]: 42 dengan basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

Ayat di atas menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan ketika “dua pasukan bertemu”. Istilah ini mengacu kepada perang Badar. Dan perang Badar terjadi ketika bulan Ramadan.

Diriwayatkan dari Umar bin Al Khaththab, dia berkata, kami berperang bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam pada bulan Ramadlan sebanyak dua kali, yaitu perang Badar dan Fathu Makkah, kami juga berbuka (tidak berpuasa) pada keduanya. [1]

Dalam satu riwayat Rasulullah (saw) pernah bersabda,

أُنزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيْمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ , وَ أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنِ مِنْ رَمَضَانَ , وَ أُنْزِلَ الْإِنْجِيْلُ لِثَلَاثِ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ , وَ أُنْزِلَ الزَّبُوْرُ لِثَمَانِ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ , وَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَ عِشْرِيْنَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: “Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada enam Ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas malam dari Ramadhan dan Zabur diturunkan delapan belas Ramadhan dan Al-Quran diturunkan pada dua puluh empat Ramadhan.” [2]

Turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadan memiliki makna yang sangat penting. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan secara khusus di bulan yang suci. Tujuan utama dari Ramadan adalah untuk menghubungkan kembali umat manusia dengan pesan-pesan Al-Qur’an dan membiarkannya memperbarui serta mengubah hati dan pikiran mereka.

Al-Qur’an Diturunkan Berulang-Kali di Bulan Ramadan

Diriwayatkan,

“Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi (saw).” [3]

Dalam riwayat lain,

“Jibril biasa mengecek bacaan Al Quran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekali pada setiap tahunnya. Namun pada tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Jibril melakukannya dua kali…” [4]

Nasehat Hadhrat Masih Mau’ud (as)

“Akar ibadah terletak dalam tilawat Qalam Ilahi. Sebab jika kalam Zat Yang Dicintai dibaca atau didengar maka pasti menimbulkan kecintaan bagi orang yang mencintai-Nya dan menciptakan kelezatan dan keharuman baginya.” [5]

“Nasehat penting bagi kamu sekalian adalah; Janganlah kamu meninggalkan Al Qur’an sebagai benda yang dilupakan; sebab, justru di dalam Al Qur’anlah terdapat kehidupan-mu. Barangsiapa yang memuliakan Al Qur’an dia memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa lebih mengutamakan Al Qur’an dari segala Hadis dan dari segala ucapan lain, akan diutamakan di langit. Bagi umat manusia di atas permukaan bumi ini, tidak ada Kitab lain kecuali Al Qur’an dan bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang Rasul juru syafa’at selain Muhammad Mustafa saw.”. [6]

“Perdalamlah Al-Qur’an Syarif karena di dalamnya terkandung ilmu semuanya. Segala jenis rincian kebaikan dan keburukan diterangkan di dalamnya, termasuk juga masalah yang berkenaan dengan kabar-kabar pada zaman yang akan datang dan lain-lain. Ketahuilah dengan pasti bahwa dia ini (AlQur’an) menyampaikan suatu agama yang tidak ada keberatan bisa ditujukan padanya karena berkat-bekat dan buah-buahnya segar. Injil tidak menjelaskan agama dengan sempurna. Ajarannya mungkin sesuai dengan masa itu tetapi jelas tidak cocok untuk setiap zaman dan untuk setiap situasi. Keunggulan ini hanya dimiliki oleh Al-Qur’an Majid karena di dalamnya Allah Ta’ala telah menjelaskan obat penawar untuk setiap penyakit dan telah memberikan tarbiyat bagi semua tingkatan kemampuan manusia, keburukan apapun telah dijelaskan beserta cara untuk menjauhinya juga telah diberikan. Oleh karena itu, teruslah membaca Al-Qur’an Majid dan selalulah berdoa serta berusaha dan jagalah tindakan kalian agar sesuai dengan ajarannya.” [7] [8]

Nasehat Hadhrat Khalifatul Masih V (aba)

Karena keagungan bulan Ramadhan ini ganjaran puasanya juga sangat tinggi dan besar sekali. Namun ganjaran itu bagi orang-orang yang memenuhi hak-hak puasa berkaitan dengan Alqur’anul Karim. Dan hak-hak itu adalah sambil berpuasa harus banyak-banyak membaca Al Qur’an, merenungkan dan menela’ah arti dan tafsirnya. Sebab sejauh yang saya ketahui dan sesuai dengan penelitian saya bahwa banyak sekali orang-orang yang tidak memenuhi hak-hak Al Qur’an atau tidak membacanya dengan teratur dan sungguh-sungguh. Yang seharusnya membaca Al Qur’an dengan penuh perhatian, mereka tidak melakukannya. Jika membacanya juga namun hanya sedikit saja. Maka, perlu mendapat perhatian kearah ini. [9]

Jadi, suri teladan Hadhrat Rasulullah saw dan sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala kita harus berusaha minimal satu kali tamat membaca Alqur’an selama bulan Ramadhan sambil merenungkannya. Barulah kita akan mampu mengamalkan firman Allah Ta’ala. [9]

“Di dalam Ramadhan ini Alquran harus dibaca dan direnungkan maknanya dan bagian yang telah dihafal mungkin telah lupa, sekarang ulangilah dan hafalkanlah kembali. Usahakan dan amalkanlah perintah-perintah yang masih belum dilaksanakan.” [9]

“Ramadhan juga mengingatkan kita bahwa ajaran Al-Qur’an al-Karim adalah lengkap dan meliputi semuanya. Memang, pengingat ini hanya bermanfaat bila kita memahami ruh dan intinya. Jika tidak, Ramadhan datang setiap tahun dan ia akan terus datang insya Allah dan juga akan terus mengingatkan tentang hal-hal itu. Dan ketika datang juga, memang telah datang berkali-kali serta akan senantiasa datang. Kita hanya akan senang untuk mendengarkan mengenai pentingnya kedatangannya, tetapi manfaatnya akan disadari sepenuhnya ketika kita melaksanakan pentingnya (bulan ini) dalam amal perbuatan kita.” [10]

Catatan Kaki