23 - Hukum Puasa: Hal-hal yang Menghilangkan Pahala Puasa
Puasa Ramadhan adalah ibadah yang agung, namun banyak di antara kita yang mungkin tidak menyadari bahwa ada beberapa perbuatan yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa. Rasulullah (saw) bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Artinya: “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar” [1]
Oleh karena itu sebagai Muslim yang bertakwa, sudah sepatutnya kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kualitas puasa kita agar tidak sia-sia.
Mari kita telaah lebih dalam hal-hal apa saja yang dapat menghilangkan pahala puasa beserta dalil-dalilnya.
Perkataan Sia-sia (Senda gurau) dan Kata-kata Keji
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah (saw) mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. [2]
Dari riwayat di atas kita mengetahui bahwa senda-gurau dan kata-kata yang keji mengurangi berkat atau pahala puasa. Rasulullah (saw) menyampaikan bahwa untuk menutupi kekurangan tersebut maka diwajibkan membayar zakat fitrah.
Perkataan atau Perbuatan yang mengandung Kebohongan
“Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan zuur dan perbuatan zuur maka Allah tidak membutuhkannya walaupun telah meninggalkan makan dan minumnya (tidak menerima amal puasanya)” [3]
Dalam bahasa arab kata zuur (زُوْر) berarti palsu, dusta, kebohongan, kepalsuan, kedustaan, ketidakbenaran. [4] Jadi perkataan atau perbuatan yang mengandung hal-hal tersebut bisa mengurangi bahkan menghilangkan berkat dan pahala puasa.
Contoh dari zuur ini diantaranya:
- Seorang siswa yang berbohong kepada gurunya dengan alasan sakit agar tidak masuk sekolah.
- Seorang karyawan yang memalsukan laporan keuangan perusahaan.
- Menyebarkan berita bohong (hoax) di media sosial.
- dll.
Berkelahi dan Menghina Orang Lain
Rasulullah (saw) bersabda,
“Puasa itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang melaksanakan puasa (beliau [saw] mengulang ucapannya dua kali)”[5]
- Puasa itu bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membersihkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.
- Kesabaran dan pengendalian diri adalah kunci utama dalam menjalankan ibadah puasa.
- Orang yang berpuasa hendaknya menghindari perkataan dan perbuatan yang buruk, serta berusaha untuk selalu bersikap bijaksana.
- Pentingnya mengontrol diri, dan menjaga lisan dari perkataan yang kotor ketika melaksanakan puasa.
Riya
Rasulullah (saw) bersabda,
“Barangsiapa yang berpuasa karena riya’, maka ia telah berbuat syirik.” [6]
Perkataan Kotor dan Bodoh dan Perbuatan Terkait
Rasulullah (saw) bersabda,
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan kotor, (perkataan) bodoh dan melakukannya, maka Allah tidak butuh meskipun dia meninggalkan makanan dan minumannya.” [7]
Beberapa contohnya terkait perkataan kotor dan bodoh:
- Mengeluarkan kata-kata kotor, umpatan, atau makian kepada orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
- Mencela, menghina, atau merendahkan orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan.
- Mengucapkan kebohongan untuk menipu atau menyesatkan orang lain.
- Menyebarkan informasi palsu atau fitnah yang merusak reputasi orang lain.
- Menghabiskan waktu dengan pembicaraan yang tidak bermanfaat, seperti membicarakan hal-hal yang tidak senonoh atau menghasut.
Beberapa contohnya terkait perbuatan kotor dan bodoh:
- Terlibat dalam pertengkaran fisik atau verbal yang tidak perlu.
- Memprovokasi atau memicu pertengkaran dengan orang lain.
- Berbuat curang dalam kegiatan perdagangan.
- Melakukan perbuatan kecurangan dalam ujian, atau dalam konteks yang lain.
- Membelanjakan uang secara berlebihan untuk hal-hal yang tidak perlu.
- Makan dan minum secara berlebihan saat berbuka puasa.
- Mengendarai kendaraan dengan sembrono.
- Melakukan perbuatan yang membahayakan orang lain.
Mengikuti Syahwat
Mengikuti syahwat dengan cara apapun bisa mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa karena dalam satu riwayat, Rasulullah (saw) memberikan nasehat,
Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku…”[5]
Tips Menjaga Syahwat
- Hindari melihat hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat, seperti gambar atau video yang tidak senonoh.
- Tundukkan pandangan saat berinteraksi dengan lawan jenis.
- Hindari berbicara tentang hal-hal yang berbau seksual atau membangkitkan syahwat.
- Jauhi percakapan yang tidak senonoh atau menggoda.
- Menghindari perkataan kotor.
- Alihkan pikiran dari hal-hal yang berbau seksual.
- Perbanyak berdzikir dan membaca Al-Quran.
- Fokus pada ibadah dan kegiatan positif.
- Hindari kontak fisik yang tidak perlu dengan lawan jenis.
- Jaga jarak saat berinteraksi dengan lawan jenis.
- Isi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti membaca, berolahraga ringan, atau membantu orang lain.
- Hindari berdiam diri di kamar terlalu lama.
- Hindari situasi yang dapat memicu kemarahan atau emosi negatif lainnya.
- Berlatih sabar dan menahan diri.
- Melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti membaca kitab suci, atau mengikuti kajian agama.
- Menyibukkan diri dengan kegiatan sosial.
Catatan Kaki
-
Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Puasa, Bab Ghibah dan mengucapkan kata-kata kotor bagi orang yang berpuasa ↩
-
Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Puasa, Bab Larangan keras “GHIBAH” bagi pelaku puasa ↩
-
Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Puasa, Bab Keutamaan puasa ↩ ↩2
-
Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Puasa, Bab Ghibah dan mengucapkan kata-kata kotor bagi orang yang berpuasa ↩