Salat tahajud adalah salat sunah yang sangat dianjurkan (muakkad) dan memiliki banyak keutamaan. Salat ini dikerjakan pada malam hari, setelah tidur, dan menjadi salah satu cara seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Salat Tahajud dikenal juga dengan salat malam.

Keutamaan Tahajud

Salat tahajud memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1. Mendekatkan Diri kepada Allah dan Mendapatkan Ampunan-Nya

Waktu malam adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Salat tahajud menjadi kesempatan bagi seorang hamba untuk berduaan dengan Allah, mencurahkan segala isi hati, dan memohon ampunan serta rahmat-Nya. Rasulullah (saw) pernah memberikan nasehat,

Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam, lantas Ia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku maka aku beri, siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku ampuni.” [1]

Rasulullah (saw) pernah bersabda,

“Hendaknya kalian melakukan shalat malam karena shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan mendekatkan kepada Tuhan kalian, menghapus keburukan, serta mencegah dosa.” [2]

2. Meningkatkan Derajat

Allah Ta’ala menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang melaksanakan salat tahajud. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Isra’ ayat 80 (basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

وَمِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿۸۰﴾

Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya (Alquran), suatu ibadah tambahan bagi engkau. Semoga Tuhan engkau akan mengangkat engkau ke derajat yang terpuji. (QS. Al-Isra’ [17]: 80)

Tafsir: Shalat Tahajud paling cocok untuk orang mukmin guna mencapai kemajuan rohaninya, oleh karena dalam kesunyian malam, dalam keadaan menyendiri di hadapan Sang Khaliknya, ia menikmati hubungan khas dengan Tuhan.

3. Memberikan Kemampuan Penguasaan Diri dan Penguasaan dalam Berbicara

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً وَّاَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿۷﴾

“Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk salat adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh untuk berbicara.” (QS Al Muzzammil [73]: 7 dengan basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

Tafsir: Bangun malam untuk mendirikan shalat merupakan wahana yang kuat untuk menguasai diri dan dengan ampuhnya mengendalikan kecenderungan dan hasrat jahat seseorang. Merupakan pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tiada yang begitu banyak memberi manfaat bagi perkembangan rohani seseorang selain Tahajud atau shalat malam. Di dalam kesunyian dan keheningan malam, semacam kedamaian yang ganjil mengungguli segala sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri bersama Sang Khalik-nya – menikmati hubungan istimewa dengan Dia dan menjadi terang benderang oleh cahaya samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang lain. Saat itu luar biasa cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan kekuatan watak dan membuat pembicaraannya sehat, bernas, dan dapat diandalkan. Ucapan yang jitu dan kemampuan yang tiada terhingga untuk bekerja keras merupakan dua syarat yang perlu bagi seorang Pembaharu agar berhasil di dalam tugasnya. Tahajud membantu memperkembangkan dua syarat itu. Karena telah dapat menguasai pikiran dan ucapannya, orang menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula.

4. Mengikuti Sunah Rasulullah (saw) dan Para Sahabat

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً وَّاَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿۷﴾

“Sesungguhnya Tuhan engkau mengetahui bahwa engkau berdiri salat hampir dua pertiga malam, dan kadangkala setengahnya atau sepertiganya, dan begitu pula segolongan orang yang beserta engkau …” (QS Al Muzzammil [73]: 7 dengan basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

Tafsir: Hadhrat Rasulullah saw. diperintahkan supaya bertahajud dengan tetap, sebab tahajud itu akan memberikan kepada beliau kekuatan yang diperlukan guna melaksanakan kewajiban berat berupa penyampaian risalah Ilahi yang dalam waktu singkat akan diserahkan kepada beliau. Dalam ayat ini, beliau diberi keyakinan tentang keridaan Ilahi, dan dikatakan kepada beliau bahwa beliau telah melaksanakan perintah Allah Swt. tentang tahajjud dengan setia – bukan hanya beliau semata tetapi segolongan orang-orang mukmin juga. Perintah itu tidak khusus ditujukan kepada para pengikut Hadhrat Rasulullah (saw), namun karena senantiasa mendambakan mengikuti jejak beliau, mereka pun meniru contoh Hadhrat Rasulullah (saw) dalam hal ini.

5. Sunah Orang-orang Saleh Terdahulu

Rasulullah (saw) pernah memberikan nasehat sebagai berikut,

“Hendaknya kalian melakukan shalat malam karena shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan mendekatkan kepada Tuhan kalian, menghapus keburukan, serta mencegah dosa.” [2]

6 Salat yang Paling Utama Setelah Salat Fardu

Rasulullah (saw) pernah memberi nasehat,

“Seutama-utama shalat setelah shalat Maktubah (wajib) adalah shalat pada sepertiga akhir malam…” [3]

Hal-hal Berkenaan dengan Salat Tahajud

1. Waktu Pelaksanaan Salat Tahajud

Waktu pelaksanaan salat tahajud adalah setelah tidur, pada malam hari, hingga sebelum masuk waktu subuh. Waktu yang paling utama adalah sepertiga malam terakhir, yaitu sekitar pukul 02.00 hingga sebelum azan subuh.

Salat tahajud dapat dikerjakan paling sedikit dua rakaat, dan paling banyak tidak terbatas.

2. Hendaknya Dilakukan dengan Teratur

“Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam”. [4]

3. Biasanya Dikerjakan Dua Rakaat-Dua Rakaat

Rasulullah (saw) bersabda,

“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at.” [5]

4. Biasanya Ditutup dengan Salat Witir

Biasanya salat tahajud itu ditutup dengan salat witir sesuai sabda Rasulullah (saw),

Jadikanlah akhir shalat malam dengan (Salat) witir. [6]

5. Hendaknya Membangunkan Keluarga

Diriwayatkan pada suatu malam Rasulullah (saw) membangunkan Ali (ra) dan Fathimah putri Nabi (saw) lalu bersabda:

“Mengapa kalian tidak shalat malam?”

Maka aku (Ali) menjawab: “Wahai Rasulullah, jiwa-jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia menghendaki membangunkan kami pasti kami akan bangun juga”.

Maka Beliau (saw) berpaling pergi ketika kami mengatakan seperti itu dan Beliau (saw) tidak berkata sepatah katapun. Kemudian aku mendengar ketika Beliau pergi sambil memukul pahanya bersabda:

وَکَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ جَدَلًا

“Memang manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. [7] [8]

Catatan Kaki