Puasa adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan dan ganjaran yang besar dalam agama Islam. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, puasa juga memiliki hikmah yang mendalam bagi kehidupan manusia. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai ganjaran puasa serta hikmah yang terkandung di dalamnya.

1. Mendapatkan Ganjaran 10 Kali lipat hingga 700 Kali lipat

Allah Ta’ala berfirman,

مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ عَشۡرُ اَمۡثَالِہَا ۚ وَمَنۡ جَآءَ بِالسَّیِّئَۃِ فَلَا یُجۡزٰۤی اِلَّا مِثۡلَہَا وَہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ ﴿۱۶۱﴾

Artinya: Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka baginya ada ganjaran sepuluh kali semisal itu, tetapi barangsiapa berbuat keburukan maka ia tidak akan dibalas melainkan hanya semisal itu dan mereka tidak akan dianiaya. (QS Al-An’aam [006]: 161 basmallah dihitung sebagai ayat pertama)

Dalam satu hadis qudsi, Rasulullah (saw) bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,

“…jika ia melakukannya (melakukan ibadah) maka catatlah sepuluh kebaikan baginya, bahkan hingga tujuh ratus kali lipat” [1]

Dalam satu riwayat, Rasulullah (saw) memberikan nasehat,

Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa”. [2]

Secara umum, ibadah itu diberikan ganjaran sepuluh kali lipat. Namun begitu jika Allah Ta’ala telah memberikan ridho-Nya, maka bisa saja kita diberikan ganjaran 700 kali lipat bahkan lebih.

2. Ganjaran Puasa itu Tidak ada bandingannya

Rasulullah (saw) bersabda,

“Hendaklah kamu berpuasa, karena ia tidak ada bandingannya.” [3]

3. Allah Ta’ala sendiri yang Menjadi Ganjarannya

Dalam satu hadis qudsi, Rasulullah (saw) bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,

“Puasa adalah milik-Ku, dan Aku sendirilah yang menjadi ganjarannya, orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena Aku…” [4]

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Jika pada bulan Ramadhan mereka yang berpuasa mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala lebih dari sebelumnya, meningkatkan ibadahnya, meningkat dalam ketakwaan, berarti manusia telah masuk kedalam tabir rahmat Allah Ta’ala lebih dari sebelumnya, karena Allah Ta’ala berfirman. “Jika seorang hamba berpuasa demi Aku dan pada hari-hari ini meninggalkan sementara perbuatan yang diperbolehkan demi Aku, maka Aku sendiri-lah yang akan menjadi ganjaran bagi orang yang berpuasa seperti itu.” (Shahih al-Bukhari, Kitab tentang shaum (puasa)) [4]

Ketika Allah Ta’ala sendiri telah menjadi ganjarannya, berarti sarana ampunan telah didapat dan jika itu telah diraih yakni Allah Ta’ala menerima ampunan dan taubatnya, berarti dia telah selamat dari api yakni api dunia dan di akhirat nanti. [5]

4. Masuk Surga melalui Pintu Ar-Royyan

Terdapat keutamaan dan ganjaran yang besar bagi orang-orang yang berpuasa. Allah Ta’ala menyediakan pintu khusus di surga yang bernama Ar-Royyan bagi mereka yang berpuasa. Pintu ini tidak akan dimasuki oleh siapa pun kecuali orang-orang yang berpuasa. Ketika hari kebangkitan telah tiba, orang-orang yang berpuasa akan dipanggil untuk memasuki surga melalui pintu Ar-Rayyan. Setelah mereka semua masuk, pintu tersebut akan ditutup dan tidak ada lagi yang bisa melewatinya.

Rasulullah (saw) bersabda,

“Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Royyan, yang pada hari qiyamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali para shaimun (orang-orang yang berpuasa). Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka; Mana para shaimun, maka para shaimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut”. [6]

Dalam riwayat lain, Rasulullah (saw) bersabda,

“Di surga ada delapan pintu, diantaranya ada yang dinamakan pintu ar-Royyan yang tidak akan memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa” [7]

5. Diampuni Dosa-dosa

Nabi (saw) bersabda,

“…dan barangsiapa yang melaksanakan shaum (puasa) Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu” [8]

Dalam riwayat lain, Rasulullah (saw) bersabda,

“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.” [9]

6. Syetan dan Jin (dalam diri orang yang melakukan puasa) Dibelenggu

Rasulullah (saw) bersabda,

“Pada malam pertama bulan Ramadan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadan” [10]

7. Puasa Menjauhkan dari Api Neraka

Rasulullah (saw) bersabda,

“… Puasa adalah perisai dari api neraka” [11]

Dalam riwayat lain, Rasulullah (saw) bersabda,

“Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjadikan antara dirinya dengan neraka sebuah parit sejauh langit dan bumi.” [12]

Dalam riwayat lain, Rasulullah (saw) bersabda,

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh ribu musim.” [13]

8. Didoakan Mendapatkan Syafaat dari Allah Ta’ala

Rasulullah (saw) bersabda,

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat.

Puasa akan berkata: “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”.

Al-Qur’an pun berkata: “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku”.

Rasulullah (saw) bersabda:

“Maka keduanya akan memberi syafa’at” [14]

Catatan Kaki